Sebelum Nyantri Harus Izin Ibu

    0
    194

    Bagi Nanang Andika, izin dari seorang ibu menjadi hal utama. Apalagi, sejak duduk di bangku SD ayahnya sudah meninggal. Makanya, ketika santri yang berasal dari Martapura ini akan masuk ke Rumah Tahfidz, lebih dulu bertanya pada ibunya.

    Kisahnya, sebelum belajar di Rumah Tahfidz, putra dari pasangan Nurman (alm) dan Paryani ini dapat informasi dari Ustadz Hamdi, salah satu ustadz di Martapura. “Seingat saya, Ustadz Hamdi bekerja di BAZNAS,” katanya.

    Waktu itu, anak ke-4 dari 4 bersaudara ini tidak langsung menerima tawaran dari Ustadz Hamdi. “Ketika itu saya belum menjawab iya atau tidak. Apalagi saya juga tidak tahu apa itu rumah tahfidz. Setelah saya tanya-tanya, saya baru tahu kalau Rumah Tahfidz itu tempat belajar santri untuk menghafalAl-quran,” ujarnya.

    Informasi tentang Rumah Tahfidz kemudian dibawa ke ibunya. “Setelah itu, saya izin dulu ke ibu saya. Waktu itu saya bilang ke ibu saya : Bu, aku ditawari sama Ustadz Hamdi supaya aku belajar di Rumah Tahfidz, seperti pesantren, tapi ini khusus menghafal quran, gimana menurut ibu? Boleh nggak aku belajar disana?” katanya menirukan percakapannya dengaan sang ibu.

    Alhamdulilah , Nanang dapat persetujuan dari ibunya. Atas izin ibunya inilah, Nanang kemudian memutuskan untuk mondok di Rumah Tahfidz sampai sekarang. “Saya mulai masuk di Rumah Tahfidz ini sejak tahun 2015,” ujar santri yang bercita-cita jadi pengusaha ini.

    “Saya dan keluarga mohon doa dari semuanya, agar cita-cita saya menjadi pengusaha yang hafal Al-quran bisa tercapai,” tambahnya. **