Sambil Menghafal, Perbaiki Cara Baca Al-Quran

    0
    214

    Suaranya agak nge-Bass. Tegas dan lantang. Perawakannya gempal. Hobinya sepak bola. Tapi namanya mirip dengan pebulu tangkis nasional : Taufik Hidayat. Biasa dipanggil Dayat. Asal daerahnya, lumayan jauh dari Palembang. Sebab santri yang lahir pada 21 April 2001 ini berasal dari Tanjung Baru, Riau. Sampai-sampai, sesekali diantara teman-teman santrinya memanggil dengan : Riau.

    Tapi panggilan itu sekarang nyaris tidak terdengar lagi. Sebab para santri saat ini sudah tahu, kalau memanggil dengan julukan dilarang agama. Al-quran melarang memanggil seseorang dengan gelar-gelar. Misal : hei jawa!, hei Sekayu! hei Kubu! atau dengan gelar lain.

    Gelar seperti itu, menurut Al-quran merupakan sebutan atau panggilan terburuk setelah mereka beriman. Untuk lebih jelasnya dilihat Al-quran Suroh Al-Hujuraat ayat 10-13.

    Keceriaan Dayat dalam kesehariannya, tak menggambarkan kalau dirinya sosok santri yang sudah yatim sejak duduk di bangku SD.

    Putra ke delapan dari 9 bersaudara dari pasangan Abu Bakar (alm) dan Mariam ini sekarang, tinggal di Rumah Tahfidz Rahmat dengan 2 saudaranya. Tapi karena kedua saudaranya perempuan, mereka tinggal di Rumah Tahfidz Qurrota Aini Poligon.

    Pada awalnya, Dayat yang kini berumur 16 tahun mengaku tidak mengetahui dengan istilah Rumah Tahfidz. Tapi, kata Dayat yang terpikir dibenaknya waktu itu Rumah Tahfidz mirip pesantren.

    Tahu tentang Rumah Tahfidz, melalui Mayasari, kakak perempuannya yang sudah lebih dulu belajar di Rumah Tahfidz ini. “Saya dapat informasi tentang Rumah Tahfidz dari Kak Maya,” ujarnya.

    “Waktu itu saya tanya sama kakak, enak nggak di rumah tahfidz?” ujar Dayat mengulang pertanyaannya pada kakaknya kala itu. “Jawab Kak Maya : enak. Ya, sudah langsung ikut masuk di Rumah Tahfidz sampai sekarang,” kisahnya saat dijumpai di Rumah Tahfidz pekan silam.

    Saat ini, Dayat sedang belajar dan memperbaiki bacaan (tajwid) sekaligus menghafal Al-quran bersama santri lainnya.**