INSAN MADANI SRIWIJAYA DIRESMIKAN, SYEH AHMAD : RUMAH TAHFIDZ DATANG, MAKSIAT MENGHILANG
Oleh Ustadz Jaelani, Pimpinan Rumah Tahfidz Insan Madani Sriwijaya Palembang

Bapakku seorang pedagang di siang hari, tetapi kala malam tiba bapak mengajari ngaji anak-anak. Ya, setiap magrib tiba, anak-anak datang ke rumah. Mereka duduk di teras sambil murojaah bacaan Qur’annya masing-masing, sambil menunggu Bapak pulang dari masjid. Setelah Bapak datang, mereka berebut tempat duduk paling pertama.

Meskipun tak diberi gaji atau tanpa uang iuran tiap bulan, tetapi Bapak tidak mempermasalahkannya. Kadang, Bapak minta uang ke kami, anaknya, untuk sekadar membeli keperluan ngaji, seperti tikar untuk duduk anak-anak atau beli kapur tulis. Bahkan, kadang lampu mati pun uang pribadinya sendiri.

Pernah suatu hari aku bertanya, “Pak, kenapa tidak meminta iuran dari anak-anak? Toh, uangnya untuk keperluan mereka, kok, bukan untuk pribadi Bapak!”

“Bapak pernah mintai iuran kepada anak-anak untuk membeli kapur seikhlasnya, tetapi besoknya anak-anak jarang ada yang berangkat ngaji,” ujar Bapak.

“bahkan, sampai ada orang tua yang memindahkan anaknya ke tempat ngaji yang lain. Padahal, iuran itu bukan untuk Bapak, melainkan keperluan ngaji alias untuk mereka juga,” lanjut beliau.

Itulah, realitanya. Terkadang untuk urusan dunia, kita, orang tua rela membayar berapa pun asalkan anaknya bisa. Akan tetapi, ketika dihadapkan pada keperluan akhirat, sangat pelit dan perhitungan. Padahal, itu merupakan pegangan kita untuk akhirat kelak. Pun penolong di alam kubur.

Begitu juga dengan sekolah yang kita bayar mahal, tak akan ada artinya. Jika anak-anak kita buta akan ilmu akhirat, dan pada akhirnya ilmu yang mereka dapat, hanya menjadi penyebab mereka sombong dan kufur.

Itulah, mirisnya, kadang kita sebagian orang tua rela menggelontorkan biaya yang tak mahal hanya untuk pendidikan dunia saja, akan tetapi untuk ilmu akhirat, meskipun murah mereka masih saja mencari yang lebih murah. Kalau bisa gratis. Padahal, ilmu akhirat itu lebih berharga daripada ilmu dunia. Karena ilmu akhirat abadi, sementara ilmu dunia hanya di dunia saja.

Ya, memang seharusnya para guru ngaji itu, juga punya pekerjaan lain. Agar tidak mengharapkan makan dan keperluan hidup melalui profesinya. Kecuali, di yayasan yang memang digaji tetap perbulannya.

Semoga jasa para guru ngaji yang tak dibayar sepeser pun alias gratis, bisa menjadi amal jariyah bagi mereka di akhirat kelak. Aamiin….


WA : 0812-7127-4232

LEAVE A REPLY