Farel Tawakal (Foto: Dok PPPA Daarul Quran).

Farel Tawakal baru saja lulus SMA.

KabarSANTRI¬† |¬† JAKARTA — Farel Tawakal baru saja lulus SMA. Dulunya ia berkeinginan untuk langsung melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi ternama di Indonesia.

Namun takdir berkata lain, ia harus terlebih dahulu menghafal Alqur’an di Rumah Tahfidz Ali Obed Bahajaj, Sukabumi, Jawa Barat. Farel, panggilan akrabnya, mengaku masuk ke rumah tahfidz karena keinginannya sendiri.

Pasalnya, saat kelulusannya dari SMA, bertepatan dengan merebaknya virus Covid-19 di Indonesia, termasuk Bogor. Hal tersebut membuat dirinya kesulitan mencari perguruan tinggi yang sesuai dengan keinginannya.

Baca Juga
Menteri Haji Saudi Pastikan Keamanan Jamaah Prioritas Utama Infografis Chelsea Vs Sevilla: Laga Dua Unggulan Jelang Lawan PSG, Solskjaer Minta Pemain MU Bisa Move On
Lihat juga:

Selain karena tekadnya sendiri, orang tuanya pun sangat mendukung dirinya untuk menjadi hafidz Qur’an. Bahkan, menurutnya orang tuanyalah yang mencarikannya rumah tahfidz agar ia dapat menghafal Al-Qur’an.

“Ibu pernah melihat ada Rumah Tahfidz Daarul Qur’an dan nanya-nanya di sana, sejak saya kelas satu atau dua SMA,” ujar Farel yang kini telah berusia 18 tahun itu, dalam siaran persnya.

Meski belum dapat mewujudkan impiannya untuk belajar di perguruan tinggi impian dan memutuskan untuk menghafal Qur’an di rumah tahfidz, Farel tak menyesal dengan pilihannya itu. Keinginannya untuk kuliah tetap ada, namun saat ini dirinya fokus memperbaiki diri dan menghafal Qur’an.

Barulah selepas menjadi hafidz Qur’an Farel akan meneruskan impiannya untuk menempuh pendidikan di perguruan tinggi yang sempat tertunda. Tak tanggung-tanggung, ia mengincar negerinya Muhammad Al-Fatih, yakni Turki. Jika tidak, ia ingin masuk ke Universitas Indonesia atau Universitas Padjadjaran dengan jurusan Sastra Inggris.

Ia mengungkapkan bahwa ayahnya berpesan agar dirinya masuk jurusan Sastra Inggirs. Sebab, ayahnya memiliki kenalan yang dipercaya untuk membantunya agar dapat bekerja di luar negeri. Baru setelah itu, ia akan meneruskan usaha ayahnya.

“Setelah ini lanjut kuliah di Turki, kalau nggak di sini di UI atau Unpad, jurusan Sastra Inggris, biar bisa kerja di luar negeri, setelah itu lanjutin usaha ayah,” ucapnya.

Namun sebelum itu, ia tahu apa yang harus dilakukannya di rumah tahfidz, yakni belajar dan menghafal Alqur’an. Itulah pesan yang disampaikan oleh ibunya, yakni agar dirinya fokus menghafal Qur’an.

Meski ia akui, banyak tantangan selama ikhtiarnya menghafal Qur’an, seperti keinginan untuk bermain sepak bola, santai-santai, hingga berkumpul bersama teman sekolahnya. Namun, ia teringat motivasinya menghafal Al-Qur’an, yakni ingin membawa keluarga dan keturunannya ke surga.

“Kendala pasti ada, kayak pengen main, main bola, tiduran, ngobrol, ngopi-ngopi, terus kadang juga diganggu temen,” jelasnya.

Kini, Farel yang baru masuk di rumah tahfidz sejak dua bulan lebih ini sudah memiliki hafalan sebanyak tiga juz. Semua itu karena tekadnya untuk menghafal Qur’an sangat tinggi. Ia yakin, kelak akan berhasil menjadi hafidz Qur’an dan menjadi pengusaha sukses.

TEKS : REPUBLIKA.CO.ID

LEAVE A REPLY