KabarSANTRI  |  BANDUNG РPesantren Al-Ittifaq, Kabupaten Bandung, mendapat berkah di tengah pandemi virus Corona (COVID-19). Pesantren yang sejak 27 tahun lalu menggeluti sektor agrobisnis ini kebanjiran permintaan sayuran dari supermarket hingga masyarakat yang memesan langsung melalui online.

CEO Ponpes Al-Ittifaq Setia Irawan mengatakan kegiatan belajar-mengajar sudah diliburkan dan santri pun dipulangkan. Hanya tersisa 60 santri yang masih bertahan dari 1.500 santri. Pesantren pun melaksanakan setiap anjuran pemerintah, seperti penerapan social distancing, physical distancing, serta penundaan setiap kegiatan majelis taklim.

Sedangkan dari sisi ekonomi, permintaan dari supermarket meningkat hingga lima kali lipat. Pesantren Al-Ittifaq melalui koperasinya merupakan pemasok sayuran ke supermarket dan pasar modern di Jakarta, Tanggerang, dan Bandung. Lahan yang dimiliki pesantren tersebut sekitar 14 hektare yang dikelola oleh sembilan kelompok tani dengan 20 petani di setiap kelompok tani.

“Kalau dari sisi ekonomi, ini yang menarik sebetulnya, dampak dari COVID-19 ini terkait dengan sektor agrikultur. Kita sekarang malah meningkat dari sisi penjualan. Jadi ada penambahan permintaan dari supermarket sampai 4-5 kali lipat,” ungkap Irawan kepada detikcom di Pesantren Al-Ittifaq, Kampung Ciburial, Desa Alamendah, Kecamatan Rancabali, Kabupaten Bandung, Rabu (8/4/2020).

Selain itu, dengan digalakkannya work from home, Pesantren Al-Ittifaq melihat peluang bisnis baru. Pesantren menggunakan strategi pemasaran melalui dalam jaringan atau online.

“Fenomena work from home (WFH) menjadi ceruk bisnis baru bagi Kopontren Al-Ittifaq. Sejak 27 Maret kami mulai melakukan ekspansi dari model bisnis Al-Ittifaq. Kita melalui Google Form dan kita mulai mendistribusikan langsung ke masyarakat,” terang Irawan saat mengunjungi green house yang dikelola Pesantren Al-Ittifaq.

Irawan mengatakan model bisnis online ini difokuskan untuk konsumen di sekitar Bandung. Kini sambutan konsumen dinilai bagus. Dalam satu hari hampir 40-60 permintaan masuk melalui Google Form tersebut.

“Harga yang kami cantumkan dalam Google Form sama dengan harga kita pasok ke supermarket. Jadi konsumen bisa mendapatkan hasil panen yang berkualitas dan kesegarannya tinggi. Tentu saja dengan harga yang memang pantas,” terang Irawan.

Ia berencana membuat website untuk memperbaiki pelayanan yang masih kurang baik dari Google Form. Sedangkan dari segi distribusi, Pesantren Al-Ittifaq akan mengirim pesanan bersamaan dengan pesanan supermarket. Lalu, sesampainya di Bandung, pesanan online akan dikirimkan melalui jasa aplikasi ojek online.

“Al-Ittifaq secara bisnis existing-nya kami mengirimkan sayuran ke modern market. Jadi ada beberapa titik, lima titik, yang dari titik-titik tersebut kita akan mendistribusikannya langsung ke konsumen (melalui aplikasi ojek online),” kata Irawan.

Lima titik tersebut adalah supermarket di Kopo, Jalan Moch Ramdan, Antapani, Dago, dan Sumber Sari Kota Bandung.

Namun ia menyayangkan program Kredit Usaha Rakyat tidak bisa dicairkan oleh pihak bank. Padahal, di tengah wabah Corona, petani membutuhkan suntikan modal ketika mendapatkan permintaan yang tinggi.

“Agak menggelikan memang, gara-gara fenomena COVID-19 ini, program pemerintah melalui KUR-nya terhenti untuk sektor pertanian. Menurut kami, inilah saat yang tepat untuk memberikan dukungan modal kepada petani. Ya ini saatnya,” keluhnya.

TEKS/FOTO : DETIK.COM (ern/ern)

loading…


 

 

LEAVE A REPLY