Anak-anak Belajar Menulis Dan Menghafal Alquran Pada Papan Kayu (mynewshub.cc)

Tidak ada buku tulis atas pena pabrikan, hanya papan kayu.

KABARSANTRI – Di zaman Rasulullah Muhammad SAW, para sahabat menulis Alquran di atas lembaran kulit hewan, batang kayu, tulang, batu, dan sebagainya. Sebab, di zaman itu kertas adalah barang langka.

Seiring berkembangnya teknologi, Alquran dicetak dalam berlembar-lembar kertas. Bahkan kini sudah banyak Alquran versi digital.

Sayangnya, keindahan Alquran cetak maupun digital tidak dirasakan anak-anak Islam di Kenya. Mereka terpaksa harus menghafal sekaligus belajar menulis ayat Alquran di atas papan kayu.

Dilaporkan Ilmfeed, kabar ini diketahui ketika pendakwah kenamaan kelahiran Afrika Selatan, Syeikh Sulaiman Moola, berkunjung ke pusat pencetak hafiz Quran di Kibusu yang terletak di gurun Kenya.

Bukan Gedung Layak, Namun Gudang

Syeikh Sulaiman menyaksikan kondisi pusat pencetak hafiz yang sangat memilukan. Bukan gedung yang bagus, namun lebih layak disebut gudang.

Yang lebih miris, anak-anak tersebut tidak memiliki buku tulis maupun pena buatan pabrik. Hanya ada berlembar-lembar papan dan pena tinta dari kayu.

Meski dalam kondisi yang sangat tidak layak, anak-anak ini tetap bersemangat menghafal dan belajar menulis ayat-ayat Alquran. Yang lebih membanggakan, mereka hafal Alquran bukan dari membaca, namun dari mendengarkan pengajarnya.

Menulis ayat Alquran pada papan membantu mereka menguatkan hafalannya. Setelah penuh dengan tulisan, papan dicuci dengan air untuk menulis ayat berikutnya. Situasinya mungkin sama dengan saat Rasulullah masih hidup.

Tetap Semangat dalam Keterbatasan

“Tidak pernah terlintas dalam pikiran saya Allah memberikan keistimewaan kepada saya untuk duduk bersama anak-anak ini yang suci, bersih, dan membaca serta menghafal Alquran,” kata Syeikh Sulaiman.

Syeikh Sulaiman membandingkan dengan perilaku kebanyakan Muslim yang memiliki Mushaf Alquran. Menurut dia, banyak Muslim membiarkan Alquran teronggok di rak dalam waktu yang lama, jauh berbeda dengan anak-anak Kenya.

“Mereka menulis ayat Alquran, kemudian menghafalnya lalu menghapus papan itu dan keesokan harinya mereka mengulangi kegiatan yang sama tanpa bosan,” kata Syeikh Sulaiman.

Sumber: mynewshub.cc

LEAVE A REPLY