Pada proses menghafal Al-Qur’an tidak semua dapat dijelaskan secara rasional, empiris dan sistematis. Ini persoalan mujizat.

Saya tidak habis pikir mengapa ada orang yang mampu menghafal Al-Qur’an satu halaman hafalan baru dalam waktu 5-11 menit?… Ini tidak masuk akal.

Kalau surah Al-Baqarah halaman terakhir sih masuk akal tapi ternyata bagi mereka yang menjalaninya seperti fenomena surah Al-Baqarah halaman terakhir. Begitu katanya 5 menit langsung lancar karena banyak kosakata yang mirip atau sama hanya fokus pada pembacaan berdasarkan alur maknanya minimal dipahami siapa pelakunya?… dimana tempatnya?… bagaimana sifatnya?… (Kiri atau kanan? dalam metode Yadain)

Setelah diteliti secara mendalam (tapi tidak dalam banget) ternyata hal itu bisa dilakukan oleh siapapun terutama jika sudah menghafal Al-Qur’an di atas 20 Juz disertai tadabbur terjemah Al-Qur’an.

Karena itu mengapa persyaratan untuk bisa ikut program mutqin 3 bulan peserta harus mampu menguasai 20 Juz terlebih dahulu atau paling tidak pernah talaqqi 20 juz dalam masa satu bulan di karantina tahifzh untuk kemudian menambah dan muraja’ah mutqin dalam waktu 3 bulan mutqin.

Ya. Masuk akal…

Tapi lagi-lagi yang bikin teori tidak sebaik mereka yang menjalani prosesnya.

Lagi-lagi ini urusan hidayah.

Ya. Hidayah.

Kemauan membaca Al-Qur’an secara berulang-ulang merupakan hidayah bagi siapapun yang mau menjemput hidayah.

Tidak semua hal harus masuk akal, yang penting masuk iman. Semoga Allah jadikan kita senantiasa setia mempelajari Al-Qur’an.

—–

Ditulis oleh Ust. Yadi Iryadi, Al-Hafizh, CH, CHt, CI, CNLP, LP.NLP

(Pembina Yayasan Karantina Tahfizh Al-Qur’an Nasional, Licensed Practitioner Neuro Linguistic Programming, Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an & Master Coach Hypno Tahfizh)

Pusat Karantina Tahfizh Al-Quran Nasional, Kuningan Jawa Barat 

LEAVE A REPLY