Pesantren Ramadhan Pesantren Tahfidz Kiai Marogan di Masjid Al Kautsar Plaju, Kamis 17/5/2018

Oleh Imron Supriyadi, Pengelola Rumah Tahfidz Rahmat

Tahun 2004, saya didaulat menjadi ketua Pengurus Masjid Nurul Iman Talang Jawa Tanjung Enim. Sebagai warga baru di komplek itu, saya tidak banyak kenal dengan warga setempat. Tapi kali itu keputusan Yayasan menempatkan saya sebagai Ketua Pengurus Masjid, harus saya terima. Sebab ini amanah yang sudah diberikan.

Awalnya, saya mencoba mengakomodir “kelompok tua” untuk berbuat sesuatu, terhadap masjid yang baru saja diresmikan menjadi masjid. Dua kali rapat, jawaban yang saya terima : orang tua akan menyetujui terhadap program kerja yang akan saya buat.

Melihat sikap “kalangan tua” yang kesannya apatis, saya kemudian mengambil inisiatif membentuk organisasi remaja masjid, dengan harapan kegiatan masjid akan lebih dinamis dan tidak terjebak pada rutinitas ritual (shalat lima waktu dan peringatan hari-hari besar Islam saja).

Langkah awal yang saya lakukan menyebarkan formulir kepada kalangan remaja, yang memiliki latar belakang beragam. Mayoritas putus sekolah. Dari formulir ini kemudian saya mengetahui sejumlah potensi, usul dan dan saran dari kelompok muda tentang bagaimana seharusnya program di masjid era mendatang.

Masing-masing potensi saya kelompokkan sesuai hobi mereka. Seni, Olah Raga, usulan pelatihan master of ceremony (MC), penceramah (da’i/ah), mengaji, belajar shalat dan hobi lainnya. Pekan berikutnya, saya kemudian mendatangkan pelatih untuk memaksimalkan potensi kalangan muda. Kali itu, saya sama sekali tidak mengajak mereka mengerjakan shalat atau melakukan ibadah ritual.

Bila kemudian ada sebagian remaja yang ikut shalat berjamaah, hanya berdasar pada kesadaran masing-masing, atau diantara mereka merasa malu bila tidak ikut dalam barisan shalat. Saya berfokus pada penggalian dan maksimalisasi potensi, tanpa menyinggung kegiatan ibadah.

Dalam perjalanan berikutnya, saya kemudian menampilkan mereka dalam event peringatan hari besar Islam (1 Muharam), sesuai hobi mereka masing-masing. Baik MC, baca puisi, nasyid dan seni hadroh  tampil di depan publik. Respon kalangan tua sangat luar biasa. Simpatik dari kalangan muda lain yang selama ini jauh dai masjid kemudian tertarik masuk masjid.

Program itu kemudian ditindaklanjuti dengan pelatihan dasar-dasar ke-organisasian, pelatihan MC, Hadroh, Nasyid, teater sampai seminar dengan tema yang berkaitan dengan memberi muatan nilai bagi kalagan muda atau sebagian orang tua.

Tanpa disadari mereka tertarik dalam kegiatan. Bahkan pada saat pelaksanaan shalat di masjid, tanpa komando kalangan muda yang selama ini agak anti pati dengan shalat, kemudian ikut dalam barisan shalat. Fakta yang luar biasa, sampai saat ini mereka tetap konsisten mengurus remaja masjid, bahkan diantaranya mereka ada yang menjadi salah satu pengurus masjid dan berbaur dengan kalangan tua.

Kisah diatas adalah fakta,  bahwa proses penyadaran terhadap nilai-nilai di kalangan remaja (kalangan muda) sebagai generasi penerus, dengan cara membuka ruang bagi mereka. Menelusuri minat dan bakat adalah pendekatan strategis yang ternyata mampu menarik mereka untuk ikut serta di dalam menggerakkan organisasi sekaligus menanamkan nilai-nilai kabaikan.

Dengan demikian, dapat diambil kesimpulan, remaja masjid–sebagai bagian kecil dari organisasi masyarakat sipil, hanya sebagai salah satu contoh saja, bagaimana kita bisa menerapkan pola ini di organisasi lain. Pada konteks ini, menangkal sikap intelorani dan mentalitas yang korup bisa secara perlahan dilakukan melalui program seni, sosial dan budaya. Pendekatan kultural adalah kunci keberhasilan bagaimana kita akan dapat menanamkan nilai-nilai dan pesan moral.

Berpijak dari hal diatas, upaya penguatan organsasi masyarakat sipil baik tang bersentuhan dengan agama atau organsiasi sosial budaya, harus dilakukan secara simultan dan konsisten.

Tujuannya, agar pesan moral dan proses pembentukan karakter kalangan muda yang toleran terhadap sesama mahluk Tuhan dan sikap anti korupsi bisa terbentuk. Tentu semua membutuhkan proses dan waktu yang tidak sebentar. Namun semua ini akan terwujud, bila kita punya niat yang sama, berbanjar dalam  satu barisan dan bergerak dengan kerja keras, kerja ikhlas dan kerja tuntas.**

Palembang, 17 Mei 2018

LEAVE A REPLY